Belakangan ini, ada semacam fenomena menarik dalam kepemimpinan politik dunia. Sejumlah negara penting justru dipimpin oleh tokoh-tokoh yang telah berada pada usia lanjut. Sebut saja di antaranya misalnya Donald Trump memimpin Amerika Serikat pada usia yang mendekati delapan puluh tahun, Prabowo Subianto mulai memimpin Indonesia pada usia 73 tahun, sementara Malaysia pernah mengalami kepemimpinan Mahathir Mohamad yang kembali menjadi perdana menteri pada usia 92 tahun.
Fenomena ini tentu tidak dengan sendirinya merupakan persoalan. Usia yang panjang memang sering kali memberikan pengalaman, kematangan, pengetahuan historis, jaringan sosial, serta kemampuan menghadapi krisis yang tidak mudah dimiliki oleh generasi yang lebih muda.
Namun, dari perspektif psikologi perkembangan manusia, bertambahnya usia juga berkaitan dengan perubahan cara seseorang memandang waktu, menetapkan tujuan, mengingat masa lalu, dan membayangkan masa depan.
Karena itu, persoalan kepemimpinan pada usia lanjut tidak cukup dilihat hanya dari sisi bertambahnya pengalaman. Akan tetapi , ada kecenderungan psikologis yang jauh lebih penting diperhatikan, yaitu semakin lanjut usia seseorang, semakin panjang pengalaman masa lalu yang menjadi bagian dari dirinya, sementara horizon masa depan secara subjektif cenderung semakin terbatas. Akibatnya, masa lalu dan masa kini dapat memperoleh porsi perhatian yang lebih besar, sedangkan orientasi terhadap hal-hal yang penting mempersiapkan kehiduan dan kebaikan di masa depan, porsinya lebih kecil, karena hal itu membutuhkan usaha kognitif dan motivasional yang lebih besar.
Menarik gagasan yang pernah diungkapkan Anis Baswedan terkait ini: “anak muda tidak menawarkan biografi, tetapi menawarkan gagasan dan visi pengembangan masa depan. Jika ada anak muda yang menulis biografi, sesungguhnya ia sudah tua. Anak muda seharusnya menuliskan cita-cita, mimpi, dan gagasan”.
Artinya, orang yang sudah lanjut usia pada umumnya akan cenderung menulis dan berbicara tentang biografi (hal-hal yang sudah lalu), sementara gagasan tentang pengembangan ke masa depan cenderung akan mendapat porsi perhatian yang lebih kecil.
Kecenderungan ini memiliki dasar dalam psikologi perkembangan. Socioemotional Selectivity Theory yang dikembangkan oleh Laura L. Carstensen menjelaskan bahwa persepsi seseorang mengenai keterbatasan waktu hidup sangat memengaruhi tujuan dan motivasinya. Ketika masa depan dipersepsikan masih panjang, seseorang cenderung lebih terbuka terhadap eksplorasi, pencarian pengetahuan, pengalaman baru, dan tujuan yang manfaatnya baru akan dirasakan dalam jangka panjang. Sebaliknya, ketika horizon waktu dipersepsikan semakin terbatas, perhatian dan motivasi cenderung bergeser kepada tujuan yang lebih dekat, bermakna secara emosional, dan relevan dengan kehidupan sekarang.
Dengan demikian, bertambahnya usia bukan hanya berarti bertambahnya pengalaman, tetapi juga dapat disertai perubahan perspektif waktu. Masa depan yang secara psikologis terasa lebih pendek membuat kebutuhan untuk memaksimalkan makna pada masa kini menjadi lebih kuat. Ini menjelaskan mengapa pada usia lanjut orientasi terhadap apa yang bermakna sekarang dapat menjadi lebih dominan dibandingkan eksplorasi terhadap kemungkinan-kemungkinan yang sangat jauh.
Pada saat yang sama, masa lalu menjadi semakin kaya. Seorang yang berusia 70 atau 80 tahun memiliki puluhan tahun pengalaman yang dapat dijadikan rujukan untuk memahami dunia. Pengalaman tersebut menjadi semacam “perpustakaan pribadi” yang sangat besar. Ketika menghadapi persoalan baru, manusia secara alamiah akan menggunakan apa yang pernah dialaminya sebagai bahan untuk memahami keadaan.
Sebuah penelitian mengenai memori autobiografis memperkuat gambaran tersebut. Dalam psikologi dikenal fenomena reminiscence bump, yaitu kecenderungan orang dewasa yang lebih tua untuk mengingat lebih banyak pengalaman pribadi dari masa remaja hingga dewasa awal. Artinya, semakin tua seseorang, bukan berarti ia hanya hidup dalam masa lalu. Tetapi masa lalu memiliki tempat yang semakin kuat dalam struktur pengalaman, identitas, dan ingatannya. Karena itu, sangat masuk akal jika pengalaman masa lalu juga memiliki pengaruh besar terhadap cara ia menafsirkan persoalan masa kini. Di sinilah persoalan kepemimpinan menjadi penting.
Seorang pemimpin senior datang ke ruang kepemimpinan dengan membawa sejarah hidup yang panjang. Ia membawa pengalaman tentang bagaimana negara pernah menghadapi krisis, bagaimana masyarakat pernah berubah, bagaimana konflik pernah terjadi, bagaimana kebijakan tertentu pernah berhasil atau gagal, serta bagaimana dunia pernah bekerja pada masa sebelumnya. Semua itu merupakan kekayaan yang sangat berharga.
Tetapi kekayaan pengalaman tersebut sekaligus potensial menciptakan kecenderungan untuk membaca masa kini melalui kacamata masa lalu. Apa yang pernah dialami menjadi referensi utama. Apa yang pernah berhasil menjadi model. Apa yang pernah gagal menjadi sesuatu yang dihindari. Dan apa yang pernah dianggap ideal dapat dengan mudah menjadi standar untuk menilai perubahan yang terjadi sekarang.
Persoalannya adalah masa depan tidak selalu merupakan pengulangan masa lalu. Perubahan teknologi, kecerdasan buatan, perubahan iklim, energi baru, bioteknologi, ekonomi digital, perubahan demografi, serta perubahan pola hubungan sosial menciptakan dunia yang sebagian besar belum pernah dialami oleh generasi pemimpin sebelumnya.
Karena itu, semakin besar ketergantungan pada pengalaman masa lalu, semakin besar pula tantangan untuk keluar dari kerangka pengalaman tersebut ketika menghadapi persoalan yang benar-benar baru.
Di sinilah kita dapat memahami mengapa orientasi masa depan menjadi persoalan penting dalam kepemimpinan usia lanjut.
Kepemimpinan masa depan menuntut kemampuan membicarakan sesuatu yang belum terjadi, memikirkan sesuatu yang belum dialami, dan mempersiapkan sesuatu yang mungkin baru dirasakan manfaatnya puluhan tahun kemudian.
Sementara itu, secara psikologis, orang yang semakin tua cenderung memiliki horizon waktu yang lebih terbatas dan tujuan yang semakin berorientasi pada hal-hal yang bermakna dalam kehidupan sekarang. Maka, terdapat potensi ketidakseimbangan: masa lalu menjadi sangat kaya sebagai sumber pengalaman, masa kini menjadi semakin penting sebagai ruang aktualisasi, sementara masa depan yang sangat jauh memiliki jarak psikologis yang lebih besar.
Hal inilah yang tampaknya perlu menjadi perhatian dalam fenomena kepemimpinan usia lanjut, baik itu di bidang politik maupun di bidang yang lainnya.
Bukan berarti pemimpin senior tidak berbicara tentang masa depan. Hampir semua pemimpin tentu berbicara tentang masa depan. Tetapi persoalannya adalah porsi dan kedalaman orientasinya. Masa depan dapat menjadi sekadar tema pidato, sementara cara berpikir, referensi kebijakan, dan kerangka pengambilan keputusan tetap lebih banyak dibentuk oleh pengalaman masa lalu dan kebutuhan masa kini.
Dengan kata lain, seseorang dapat sering menyebut “masa depan” dalam pidatonya, tetapi tetap memiliki future orientation yang relatif lebih lemah dalam cara ia membayangkan perubahan.
Di sinilah perbedaan antara berbicara tentang masa depan dan berpikir secara futuristik. Berbicara tentang masa depan relatif mudah. Berpikir futuristik jauh lebih sulit.
Berpikir futuristik berarti berani meninggalkan sebagian asumsi yang dibentuk oleh pengalaman masa lalu, membayangkan kondisi yang belum pernah terjadi, menerima ketidakpastian, membuka diri terhadap pengetahuan baru, dan mengambil keputusan yang manfaatnya mungkin baru dirasakan oleh generasi yang bahkan belum menjadi bagian dari kehidupan politik hari ini.
Karena itu, kepemimpinan usia lanjut memiliki sebuah paradoks. Semakin panjang pengalaman seseorang, semakin besar modal yang ia miliki untuk memahami sejarah. Tetapi semakin jauh dunia bergerak dari pengalaman tersebut, semakin besar pula kebutuhan untuk melakukan pembaruan cara berpikir dalam mengadaptasi perubahan-perubahan yang jadi tuntutan masa depan.
Masalahnya bukan pengalaman. Masalahnya adalah ketika pengalaman berubah menjadi paradigma yang terlalu dominan. Masalahnya bukan nostalgia. Masalahnya adalah ketika nostalgia berubah menjadi standar untuk menentukan arah masa depan.
Masalahnya bukan perhatian terhadap masa kini. Masalahnya adalah ketika kepentingan masa kini mengalahkan kepentingan generasi yang akan datang.
Dalam konteks kepemimpinan negara, persoalan ini sangat penting karena masa jabatan seorang pemimpin jauh lebih pendek daripada konsekuensi kebijakannya. Seorang presiden mungkin memimpin hanya lima atau sepuluh tahun, tetapi keputusan mengenai energi, lingkungan, pendidikan, teknologi, pembangunan, sumber daya alam, dan utang negara dapat berdampak selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Karena itu, seorang pemimpin tidak cukup hanya memikirkan apa yang dibutuhkan masyarakat hari ini. Ia harus mampu memikirkan apa yang akan dibutuhkan masyarakat dua puluh, lima puluh, bahkan seratus tahun ke depan.
Di sinilah kepemimpinan membutuhkan generational imagination: kemampuan untuk membayangkan kehidupan generasi yang belum hadir dan menjadikan kepentingan mereka sebagai bagian terbesar dari pertimbangan kebijakan hari ini.
Donald Trump dapat menjadi contoh yang menarik dalam konteks perdebatan ini, meskipun kebijakannya tidak dapat secara ilmiah disimpulkan sebagai akibat dari usianya. Setelah kembali menjadi Presiden Amerika Serikat pada 2025, pemerintahannya mengambil sejumlah langkah yang mengubah arah kebijakan lingkungan dan energi Amerika Serikat, termasuk memulai kembali proses penarikan Amerika Serikat dari Paris Agreement dan menempatkan peningkatan produksi energi domestik sebagai salah satu prioritas.
Pada September 2026, seorang hakim federal bahkan menyatakan bahwa penghentian program Solar for All senilai sekitar US$7 miliar oleh pemerintahan Trump melanggar hukum. Program tersebut sebelumnya dirancang untuk memperluas akses energi surya bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Kebijakan tersebut tentu memiliki penjelasan politik dan ekonomi tersendiri. Tetapi kasus tersebut paling tidak dapat digunakan sebagai ilustrasi tentang benturan antara orientasi kebijakan yang menekankan paradigma energi yang telah lama dikenal dengan agenda transisi energi yang lebih berorientasi pada perubahan jangka panjang.
Karena itu, perlu dipahami bahwa bertambahnya usia membawa kecenderungan psikologis tertentu yang dapat membuat orientasi masa lalu dan masa kini semakin kuat, padahal yang paling diharapkan dari seorang pemimpin adalah future orientation dengan berbagai inovasi dan pengembangan.
Pemimpin yang baik bukanlah pemimpin yang meninggalkan masa lalu. Ia belajar dari masa lalu. Tetapi pemimpin yang benar-benar visioner tidak berhenti di sana. Ia menggunakan masa lalu untuk memahami masa kini, menggunakan masa kini untuk mempersiapkan masa depan, dan bersedia membuat keputusan yang mungkin tidak sepenuhnya menguntungkan dirinya hari ini, tetapi akan memberikan manfaat bagi generasi yang akan datang.
Sebab pada akhirnya, ukuran kepemimpinan bukan hanya seberapa baik seseorang memahami dunia yang telah ia jalani. Ukuran yang lebih besar adalah seberapa jauh ia mampu mempersiapkan dunia yang belum atau bahkan tidak akan pernah ia lihat.


Komentar