Barangkali salah satu hal yang perlu dianalisis dari dinamika sosial masyarakat saat ini adalah kecenderungan manusia yang kian positivistik di hampir semua aspek, mulai dari memandang pengetahuan, rezeki, dan kehidupan. Tampaknya, manusia modern tidak begitu percaya lagi hal-hal yang abstrak, meskipun kalau kita menoleh ke Alquran sebenarnya indikator pertama orang bertakwa itu adalah mereka yang percaya pada yang ghaib alladzīna yu’minūna bil-ghaib, yakni orang-orang yang beriman kepada yang ghaib (QS. Al-Baqarah: 3).
Ayat ini menjadi menarik kalau coba kita letakkan dalam konteks kehidupan manusia modern hari ini. Sebab, persoalan manusia modern bukan hanya tentang semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga tentang berubahnya cara manusia dalam memandang kenyataan. Kita semakin terbiasa dengan sesuatu yang dapat dilihat, disentuh, diukur, dihitung, diuji, dan dibuktikan. Sesuatu yang dapat memberikan hasil secara langsung cenderung lebih mudah dipercaya. Sebaliknya, sesuatu yang tidak dapat segera ditunjukkan buktinya, tidak dapat dirasakan secara indrawi, atau tidak dapat diterangkan secara logis, lebih mudah dianggap tidak jelas dan karena itu kurang meyakinkan.
Dalam cara berpikir seperti ini, sesuatu dianggap meyakinkan apabila dapat ditunjukkan buktinya secara empiris melalui panca indra, dapat dirasakan manfaatnya, dapat dihitung nilainya, atau setidak-tidaknya dapat dijelaskan secara logis. Tuntutan terhadap bukti empiris melalui indra dan logika pada dirinya sendiri itu tentu bukan sesuatu yang salah. Bahkan ilmu pengetahuan tidak mungkin berkembang tanpa pengamatan, pembuktian empiris, pengujian, dan penalaran rasional. Yang menjadi masalah ketika standar empiris dan logis tersebut berubah menjadi satu-satunya ukuran untuk menentukan apa atau mana yang dipandang dan diyakini nyata, yang dipandang bernilai, dan yang layak dipercaya.
Sesuatu yang dapat dilihat mata barulah dianggap nyata. Sesuatu yang dapat disentuh kulit barulah dianggap konkret. Sesuatu yang dapat dihitung dianggap bernilai. Sesuatu yang dapat dirasakan langsung dianggap meyakinkan. Sementara sesuatu yang tidak dapat ditangkap pancaindra dan tidak dapat dijelaskan secara rasional dengan segera, perlahan ditempatkan sebagai sesuatu yang samar, tidak jelas, bahkan dianggap tidak penting dalam kehidupan sehari-hari.
Itulah mengapa menurut saya, tampaknya memang sangat penting mengingatkan kembali kajian ontologis dalam filsafat yang mengajarkan kepada kita bahwa objek-objek atau apa yang disebut yang ada (wujud) itu terbagi pada 3 (tiga) kategori. Pertama, objek atau wujud yang dapat dijangkau oleh pancaindra, disebut mahsūsāt. Kedua, objek-objek atau wujud yang dapat dijangkau oleh akal, disebut ma‘qūlāt. Ketiga, objek yang tidak dapat dijangkau oleh keduanya, melainkan berada pada wilayah ghaibiyyāt, yaitu perkara-perkara ghaib atau supranatural yang berada di luar jangkauan langsung pancaindra dan rasio manusia.
Pembagian ini penting karena tidak semua yang ada harus dapat dilihat oleh mata, didengar telinga, dicium tangan dan sebagainya. Dan tidak semua yang benar harus dapat disentuh oleh tangan. Mata memiliki keterbatasan. Telinga memiliki keterbatasan. Akal pun memiliki keterbatasan. Maka ketidakmampuan manusia menangkap sesuatu tidak otomatis menjadi bukti bahwa sesuatu itu tidak ada dan ahirnya diperlakukan tidak penting.
Masalahnya, semakin ke belakang ini, manusia tampaknya kian positivis dan logis dengan hanya berpangku pada hal-hal yang dikategorikan pada wujud pertama dan kedua itu, dan nyaris seperti tak percaya atau setidaknya memandang tidak penting objek-objek atau wujud kategori ketiga itu. Kecenderungan ini sangat mudah ditemukan di tengah pergaulan sosial kehidupan manusia modern.
Salah satu tandanya adalah semakin seringnya kita menggunakan kata tanya yang sangat sederhana, yaitu “jelas gak?”. Ketika misalnya mengajak orang-orang ke suatu pertemuan ilmiah semacam seminar atau kajian, sering kali muncul pertanyaan, “jelas gak?” tetapi “jelas” yang dimaksud sering kali bukan hanya soal tempat, waktu, agenda atau topik meteri yang akan dikaji dalam kegiatan. Yang dimaksud dengan pertanyaan “jelas” itu justru sering kali adalah “apa yang akan saya dapatkan”?. ada makan? ada uang transport? ada amplop? ada bingkisan? ada sertifikat? ada doorprize? ada fasilitas?, dan lain-lain. Kalau jawabannya ada, maka langkah kaki menuju kegiatan tersebut akan lebih ringan dan semangat. Kalau ada nasi kotak, orang-orang pun akan lebih bersemangat. Kalau ada uang transport, biasanya akan semakin jelas dan bahkan jumlah peserta yang hadir bisa melebihi jumlah yang diundang. Kalau ada amplop, akan lebih jelas lagi.
Tetapi jika jawabannya, “Tidak ada apa-apa, hanya ilmu dan silaturahmi,” tampaknya tidak jarang antusiasme bisa berkurang dan lemah. Jika dikatakan, “Ada kajian dan diskusi ilmiah saja,” sebagian orang mungkin masih bertanya, “Terus dapat apa?” Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya menunjukkan perubahan cara manusia memberikan nilai. Sesuatu menjadi lebih menarik ketika manfaatnya dapat diterima secara langsung dan dapat dirasakan secara material.
Makanan jelas karena dapat dimakan dan langsung terasa di lambung. Uang jelas karena dapat dihitung dan digunakan untuk makan dan kepentingan lain yang dapat memuaskan indra. Barang jelas karena dapat dibawa pulang. Sertifikat jelas karena dapat dipegang dan digunakan. Tetapi ilmu, pengalaman, keberkahan, silaturahmi, dan pahala tidak selalu memberikan pengalaman empiris yang segera. Akibatnya, sesuatu yang material sering kali terasa lebih “nyata” dan penting dibandingkan hal-hal sifatnya berupa nilai-nilai yang abstrak atau ghaib.
Fenomena ini sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Ketika seseorang mengajak temannya menghadiri sebuah acara, tidak jarang pertanyaan yang muncul “nanti ada apa?”, “ada makan-makan nggak?”, “ada uang transport nggak?”, “dapat amplop nggak?”, “dapat sertifikat nggak?”, atau “ada doorprize nggak?”, dan lain-lain yang bersifat empiris-indrawi. Sebenarnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu salah. Orang tentu memiliki kebutuhan dan pertimbangan praktis. Tetapi ketika hampir semua kegiatan dinilai berdasarkan apa yang bisa langsung diterima, kita perlu bertanya, apakah ukuran manfaat kita mulai terlalu sempit?
Sebab ada kegiatan yang nilai utamanya bukan pada apa yang bisa masuk ke tangan, ke lambung atau ke kantong, melainkan pada apa yang masuk ke dalam diri. Ilmu masuk ke pikiran. Nasihat masuk ke kesadaran. Pengalaman masuk ke kematangan. Silaturahmi masuk ke hubungan. Kebaikan masuk ke karakter. Tetapi semuanya tidak memiliki bentuk yang bisa langsung dibawa pulang dalam kantong. Karena itu, nilainya sering kali terasa atau dipandang gak “jelas”.
Dalam kegiatan seminar atau pelatihan, misalnya, pertanyaan pertama kadang bukan lagi “siapa pembicaranya?” atau “ilmu atau pemikiran apa yang akan dibahas?”, tetapi “dapat sertifikat?”, “dapat snack?”, atau “dapat uang transport?” Jika tidak ada sertifikat, sebagian orang bahkan bertanya, “Kalau tidak dapat sertifikat, buat apa ikut?”. Sertifikat tentu bisa memiliki manfaat nyata, terutama bagi mahasiswa atau pekerja yang memang membutuhkannya sebagai bukti kegiatan. Tetapi jika sertifikat menjadi alasan utama sementara ilmu yang diperoleh justru menjadi pertimbangan sekunder, di situ terlihat bagaimana sesuatu yang dapat dibuktikan secara material lebih mudah dianggap bernilai. Ilmu yang mungkin baru berguna lima tahun kemudian terasa kalah menarik dibandingkan selembar sertifikat yang bisa langsung disimpan hari ini.
Fenomena yang lebih jelas dapat ditemukan dalam kegiatan sosial kita belakangan ini, misalnya tidak jarang juga ada orang hanya datang di akhir, itupun karena tahu di akhir acara akan ada amplop. Ketika amplop tidak ada, muncul pertanyaan, “jadi kita dapat apa?” Kalimat tersebut memperlihatkan bagaimana kehadiran mulai dikaitkan dengan imbalan empiris-indrawi yang dapat diperoleh.
Hal serupa dapat terjadi dalam kepanitiaan. “besok bantu jadi panitia, ya.” “honornya berapa?” “ada uang transport?” “dapat makan?” “dapat sertifikat?” Jika jawabannya tidak ada, minat bisa jadi sangat lemah dan menurun. Padahal tidak semua aktivitas manusia dibangun atas hubungan transaksi. Ada kegiatan yang dilakukan karena pengabdian, pengalaman, persaudaraan, kepedulian, atau sekadar keinginan untuk membantu. Namun dalam budaya yang semakin material, nilai-nilai semacam itu dapat menjadi semakin sulit dipertahankan apabila tidak disertai imbalan yang langsung terlihat.
Hal serupa bisa saja terjadi dalam hubungan sosial. Misalnya jika ada ajakan “bertamu/main ke rumah.” Pertanyaan akan muncul, “dalam rangka apa?” “ya, silaturahmi.” “memangnya ada apa?”. Tetapi jika dikatakan, “nanti akan ada makan-makan,” responsnya bisa berbeda, atau disebut “ada arisan,” bisa jadi akan semakin jelas, atau jika disebut “nanti akan ada pembagian sesuatu,” maka respon dan semangat bisa akan lebih jelas lagi. Padahal silaturahmi memiliki nilai yang tidak selalu langsung terasa. Ia mungkin mempererat hubungan, membuka jalan pertolongan, menghilangkan kesalahpahaman, atau menjadi sebab munculnya kebaikan di kemudian hari. Namun karena manfaatnya tidak langsung terlihat secara empiris-indrawi, ia mudah kalah menarik dibandingkan sesuatu yang konkret.
Kecenderungan yang sama dapat dilihat dalam cara manusia memahami rezeki. Rezeki semakin sering dipersempit menjadi angka, seperti berapa gaji, berapa bonus, berapa omzet, berapa saldo rekening, berapa aset. Ketika angka meningkat, kita mengatakan rezeki bertambah. Ketika angka turun, kita merasa rezeki berkurang. Padahal rezeki tidak selalu hadir dalam bentuk yang dapat dihitung.
Kesehatan adalah rezeki. Waktu luang adalah rezeki. Pertemanan yang tulus adalah rezeki. Terhindar dari kecelakaan adalah rezeki. Mendapat kesempatan belajar adalah rezeki, dan lain-lain. Tetapi karena sebagian dari semua itu tidak memiliki angka yang dapat ditampilkan di layar rekening, manusia sering tidak menyadarinya sebagai rezeki. Kita lebih mudah berkata, “alhamdulillah, gaji saya naik dua juta,” daripada menyadari, “alhamdulillah, hari ini saya terhindar dari sesuatu yang buruk.” Yang pertama dapat dihitung, sementara yang kedua tidak. Yang pertama konkret secara material-indrawi, sementara yang kedua membutuhkan kesadaran.
Pada saat yang sama, contoh lain, para penceramah capek berkoar-koar mengajak agar jamaah rajin menghadiri majelis ilmu dengan penjelasan bahwa akan memperoleh pahala. Namun orang yang diajak tetap saja enggan dan malas, karena gambaran imbalan yang dijelaskan adalah pahala-sebagai sesuatu yang abstrak atau “tidak jelas”, “tidak konkret”, dan tidak dapat langsung dinikmati secara empiris-indrawi. Coba bandingkan dua ajakan: “datang ke acara ini, nanti dapat nasi kotak dan amplop,” dengan “datang ke majelis ilmu, insya Allah mendapatkan pahala.” Keduanya sama-sama menawarkan sesuatu. Tetapi yang pertama menawarkan sesuatu yang dapat dilihat, disentuh, dihitung, dan langsung diterima secara empiris, sementara yang kedua menawarkan sesuatu yang bersifat ghaib. Karena itu, bagi manusia yang semakin terbiasa dengan ukuran empiris, ajakan pertama dapat terasa lebih meyakinkan dan penting, sementara yang kedua tidak begitu menarik bahkan sudah tidak terasa penting.
Hal yang sama terjadi dalam persoalan dosa. Manusia diberi tahu bahwa perbuatan berbohong adalah dosa, menggibah dan fitnah adalah dosa, mengambil hak orang lain adalah dosa, dan lain-lain. Tetapi manusia modern sepertinya seringkali memandang remeh apa yang disebut dosa itu, karena baginya dosa sesuatu yang abstrak dan tidak secara langsung dirasakan oleh indranya. Setelah seseorang melakukan suatu kesalahan, ia merasa tidak selalu ada konsekuensi fisik yang secara langsung dirasakan.
Ia berbohong, tetapi kulitnya tidak langsung terasa sakit. Ia mengambil hak orang lain, tetapi tubuhnya tidak langsung mengalami sesuatu. Ia menggibah dan memfitnah, tetapi tidak ada tangan yang langsung menghantamnya. Ia melakukan dosa, tetapi tidak ada alarm yang berbunyi. Karena tidak ada konsekuensi empiris yang langsung, manusia dapat dengan mudah merasa bahwa “tidak terjadi apa-apa”. Padahal tidak adanya hukuman yang langsung terlihat bukan berarti tidak ada pertanggungjawaban.
Bayangkan, sekadar sebagai ilustrasi pemikiran, jika sekiranya setiap kali seseorang melakukan dosa, ia langsung mendapatkan konsekuensi fisik yang dapat dirasakan tubuhnya. Misalnya, setiap kali seseorang menggibah dan fitnah, langsung ada pukulan dari Malaikat Jibril yang menyakitkan tubuh atau kulitnya; setiap kali seseorang mengambil hak orang lain, tubuhnya langsung dipukuli oleh malaikat dan tubuhnya pun merasakan sakit, mungkin día akan lebih cepat bisa menghentikan perbuatannya itu.
Di sinilah ayat Alqur'an di atas tadi menjadi sangat relevan, yakni alladzīna yu’minūna bil-ghaib-mereka yang beriman kepada yang ghaib. Menarik bahwa ketika Alqur'an menyebut karakter orang bertakwa, yang pertama kali disebut justru iman kepada yang ghaib. Sebab iman kepada yang ghaib mengubah cara manusia memandang kehidupan. Ia membuat manusia menyadari bahwa tidak semua yang bernilai harus dapat dirasakan langsung secara empiris melalui panca indra. Tidak semua yang benar harus dapat disentuh. Tidak semua akibat harus hadir sekarang dalam bentuk empiris. Tidak semua kebaikan harus segera kembali dalam bentuk materi. Tidak semua pengawasan harus hadir dalam bentuk kamera. Dan tidak semua pertanggungjawaban harus terjadi seketika setelah perbuatan.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang perlu diajukan kepada manusia modern bukan sekadar, “Apakah kamu percaya kepada yang ghaib?” Tetapi, “seberapa besar sesuatu yang tidak terlihat masih mampu memengaruhi keputusanmu yang terlihat?” Di situlah iman kepada yang ghaib menemukan maknanya-kemampuan untuk menjadikan sesuatu yang tidak terlihat sebagai dasar bagi tindakan yang nyata.
Dan mungkin, justru di tengah kehidupan yang semakin menuntut segala sesuatu serba konkret, serba terukur, serba terbukti, dan serba “jelas” dan dapat dirasakan langsung oleh panca indra, iman kepada yang ghaib menjadi semakin penting agar manusia tidak kehilangan kesadaran bahwa kenyataan tidak pernah sesempit apa yang dapat dilihat oleh matanya, tidak sesempit apa yang bisa didengar telinganya, tidak sesederhana apa yang hanya bisa dirasakan kulit, lidah, atau lambungnya.


Komentar